22 June 2014

Educating Hope 1

Melihat 3 buah TV LCD yang selalu menyambut setiap kita tiba di Kampus AMIK Medicom, khususnya lokasi Darat, ismud, dan Bantam; mengingatkan saya ketika ide Teknologi ini masih hanya sebuah imaginasi. 

Duduk setelah makan siang bersama mas Benny banyak membuahkan ide-ide segar yang sangat produktif dan membangun. Membangun medicom tentunya. Hadir disana dalam susunan melingkar; mas Benny, bg Kamson, saya, bg Nando, bg Desmon, bg Maruli, bg Jhonson, bg Koko dan bg Rudi. Diskusi yang mengesankan. Hampir-hampir 10 potong buah semangka merah segar yg ada ditengah, tidak tersentuh. Tidak seperti biasanya.

Mas Benny, menantu Bpk dr. Reinhard, pimpinan Medicom, adalah seorang profesional di perusahaan Indosat. Sengaja datang ke kampus Medicom untuk memberikan seminar marketing kepada personil Medicom. Seminar dilaksanakan dua sesi, sesi pertama jam 10 sampai jam 12. Lalu sesi kedua akan dimulai jam 2 siang. Di sela dua seminar itulah ide-ide segar dan produktif dilahirkan, dengan penuh hope: mewujudkan Medicom menjadi kampus ICT terbaik dan tercanggih di Sumatera Utara.

Ide pertama yang muncul adalah pengadaan TV LCD 50-an inci. Untuk awal: 3 buah. Satu buah per lokasi, misalnya: ismud, darat, dan bantam. Dipasang di dinding ruangan dekat meja diskusi lantai satu yang mudah terlihat dan banyak dilewati orang. Kita dapat menampilkan materi-materi bahasa inggris, motivasi/kata-kata inspirasi, sistem nilai/ pola pikir, selingan hiburan (3b star misalnya), pengumuman, jadwal kuliah atau jadwal kegiatan. Kita juga bisa menampilkan siaran-siaran kampus medicom, live, yang dibawakan oleh mahasiswa/i. Kita sudah punya studio untuk rekamannya. Jika TV ini disingkronkan dengan database, kita bahkan bisa menampilkan di TV: "welcome #nama-pendaftar yang baru saja mendaftar# to Medicom" dengan template berdesign khusus. Kita pasti bisa membayangkan rasa bangga di hati si calon mahasiswa yg mendaftar tersebut. Kita tinggal siapkan seorang admin khusus untuk mengatur waktu dan materi tampilan TV tersebut.

Ide TV LCD ini sudah pernah didiskusikan. Namun karena harga, kita coba alternatif menggunakan Running Teks. Sudah dipasang satu di kampus Ismud. Bagus. Tapi, diskusi ini membuat TV LCD tampak lebih bagus lagi. Karena terlihat lebih canggih. Dan karena manusia lebih tertarik dengan gambar video daripada hanya teks. Mas benny berpendapat bahwa running teks lebih efektif untuk outdoor daripada indoor.

Kita sebenarnya sudah punya satu TV LCD di ruang teori komputer lokasi bantam. Waktu itu, ibu kabag keuangan memberikan ide memakai TV LCD untuk menggantikan proyektor. Kata bang Nando, harganya kurang dari Rp 5 jt. Ternyata, dari bang Desmon diketahui bahwa harga pemasangan running teks hampir sama.

Untuk mensiasati biaya, bisa saja kita menawarkan tayangan iklan ke perusahaan lain untuk ditampilkan di TV LCD. Atau kita bisa membuat proposal ke perusahaan lain untuk memberikan kita TV seperti yang kita mau, dengan tawaran: iklannya ditampilkan 3 jam/hari selama setahun misalnya. Dimana lebih dari 5000 pasang mata melihat TV tersebut setiap harinya. Bahkan, kita bisa menjual space bingkai TV untuk ditempel stiker iklan suatu produk/jasa, seperti indosat misalnya. Ini bisa menjadi uang masuk.

Setelah TV LCD, muncul ide-ide segar lainnya yang kaya dengan hope. Namun, waktu menunjukkan jam 2 siang. Tiba waktunya mas benny memulai presentasi seminar sesi yg kedua. Hingga pertemuan berakhir, buah semangka masih tersisa 5 potong. Tidak seperti biasanya.

Rizki Habibi
AMIK MEDICOM